Persaingan Cinta

antologi Cerpen Twins

Dalam buku tersebut dikisahkan sebuah cerita tentang si kembar Rezi dan Reza. Bagiamana kisah celanjutnya yuk pada bca ya!

Rezi dan Reza adalah sahabat kecilku dari kecil, mereka adalah saudara kembar yang menurutku sangat unik dan berbeda satu sama yang lainnya. Karakter mereka berdua itu bak langit dan bumi, yang satunya pendiam dan yang satunya sangat ceria.

Rezi yang gemar membaca buku-buku horor itu menyukai olahraga lari sedang Reza si usil menyukai olahraga renang, sedang aku menyukai kedua olahraga tersebut. Persahabatan kami sudah terjalin sejak kami berusia tujuh tahun, saat itu kami bersekolah di tempat yang sama, bahkan kami kuliah di kampus yang sama pula yaitu di salah satu universitas ternama di daerah kami.

Pada suatu hari aku, Riza dan Rezi berangkat ke kampus bersama-sama. Hanya saja ada yang berbeda dari sikap Reza saat itu. 

”Maaf aku harus pergi dulu,” katanya Reza sambil senyum simpul.

“Kamu mau kemana, bareng aja deh,” kataku

“Tidak. Kamu sama Rezi aja dulu, aku ada urusan.” Balasnya sambil berlari menuju arah laboraturium tempat biasanya mahasiwa kampusku melakukan praktikum.

Sebenarnya aku agak bosan kalau jalan dengan Rezi, karena dia begitu pendiam, bingung mau bicara apa dengannya. biasanya kalau kami jalan bertiga Reza lebih sering bercanda dan ngobrol bersamaku. Tapi sejak saat itu Reza selalu meniggalkan kami. Mungkin Reza ada kesibukan yang lain pikirku. 

“Zi, hari ini mata kuliah apa?” tanyaku pada Rezi.

“Hari ini aku masuk Filsafat, kalau kamu? Jawabnya sambil bertanya kembali padaku.

“kalau aku sih hari ini, Zoologi Invertebrata, sama pak Fahmi,” jawabku 

“Gimana belajar sama bapak itu?” tanyanya lagi

“Ya.. lumayanlah, pokonya nyambung deh belajarnya dengan beliau” Jawabku sambil sedikit mengerenyitkan keningku, 

Aku sedikit heran dengan sikap Rezi saat itu ia begitu ramah tidak seperti biasanya agak kaku. Pagi itu tidak terasa waktu berjalan begitu cepat banyak juga yang kami obrolkan, dari mulai mata kuliah yang kami sukai sampai yang paling kami benci. Baru kali itu aku merasa senang dan tidak bosan bersamananya.

Disisi lain Reza ternyata melihat aku dan Rezi dari jauh, dengan perasaan sedihnya. 

Waktu terus berjalan hubungan aku dan Rezi semakin dekat dan akrab, tetapi di satu sisi hubunganku dan Reza semakin menjauh. Aku jadi curiga ada apa sebenarnya dengan mereka berdua. Kenapa sekarang hubungan kami tidak seperti dulu yang sering jalan bertiga.  

“Aku duluan ya,” Kata Reza.

“Lho, kenapa sih seperti itu terus, aku maunya kita jalan bareng seperti dulu,” kataku 

“sebenarya kalian ini ada apa sih, kalian ada masalah ya,” tanyaku dengan nada heran.

“Kami ngk ada apa-apa,” balas Rezi dengan nada terkejut.

“Lantas, kenapa kamu selalu menghindari kami berdua,”tanyaku balik pada Reza

“siapa yang menghindar, aku ada urusan, bukan menghidar dan meninggalkan kalian berdua, apa coba untungnya seperti itu. Dasar aneh” jawabnya sambil memencit hidungku.

“Sudahlah, mending kamu masuk kelas gih, ngak usah mikir yang aneh-aneh lagi, dasar anak kecil.” Tandasnya lagi.

“oke deh kalau begitu, tapi benar kan kalian itu emang ngk ada apa-apa, awas aja kalau ada apa-apa ya,” timpalku

“Iya.. iya” jawab Reza sambil mendorong tubuhku agar segera menuju ke kelas.

Saat mata kuliah sedang berjalan, tiba-tiba perasaanku kurang nyaman, kepalaku pusing, suhu tubuhku semakin panas, mungkin aku demam, karena itu aku jadi kurang fokus.  Melihat kondisiku demikian Dosen Fahmi mendekatiku.

“Kamu sepertinya kurang sehat ya? Tanya Dosen Fahmi kepadaku

“Iya pak, tiba-tiba saya kurang enak badan, kepala saya agak pusing pak” jawabku

“Ya sudah, sekarang kamu istirahat saja dulu, masalah tugas kamu bisa kirimkan ke Email saya.” Saran dosen Fahmi padaku.

Akupun keluar kelas dan menuju tempat biasanya aku tongkrongi bersama Reza dan Rezi,  agar aku bisa beristirahat ternyata disana ada mereka berdua yang sedang berdebat. Aku heran dan mencoba mendekati mereka dan bersembunyi di balik pohon mahoni untuk mengetahui lebih dekat apa sebenarnya yang mereka bicarakan. Betapa terkejutnya aku ternyata yang mereka bahas dan mereka perdebatkan itu adalah aku, dan mereka berselisih.

“Apa yang kalian katakan. Sungguh aku tidak menyangka kalian seperti itu padaku, kalian membohongiku! Kataku dengan nada kecewa.

“Clara!” ucap Reza dan Rezi secara bersamaan, sambil memandangku terkejut.

“Sejak kapan kamu ada disitu,” tanya Rezi

“Apakah kamu mendengar semujanyanya?” Tanya Reza gugup. Sambil menatap wajah pucatku.

“Sudahlah..” jawabku sambil meninggalkan mereka.

Namun ketika aku membalikan badan seketika tubuhku roboh. Reza  yang khawatir akan keadaanku langsung berlari mendekatiku sayup-sayup aku mendengar dia menyebut namaku. Tapi aku tak kuasa tubuhku begitu lemah tak berdaya, aku ternyata pingsan. 

Mereka membawaku ke Unit Pelayanan Kesahatan yang ada di kampus tempat kami kuliah. Saat itu mereka berdua sangat bingung dan panik melihat kondisiku yang sedang pingsan. Mereka berdua merasa bersalah atas kejadian tersebut.

Pada saat aku siuman, aku melihat mereka berdua sedang memegangi kepala dan tanganku.

“Apa yang kamu rasakan sekarang Clara,” Tanya Reza dengan nada cemas

 “Kami minta maaf, Clara,” kata Rezi

Aku hanya diam dan tak menjawab semua pertanyaan mereka. Perasaanku kacau dan aku merasa sangat kecewa. Sejak peristiwa itu aku menjauhi mereka berdua.

Biarlah hubungan kami seperti ini, Aku tidak mungkin memilih diantara mereka berdua, mereka sahabatku, dua orang yang sangat kusayang, tidak seharusnya memperebutkan aku. Lebih baik aku menjauh dari mereka agar tak ada lagi perdebatan dan permusuhan serta perselisihan karena persaingan cinta.


Komentar

  1. Bagusss❤️❤️,semangat terusπŸ‘πŸ‘πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ’ͺ🏻πŸ’ͺ🏻πŸ’ͺ🏻

    BalasHapus
  2. Terimakasih Bil, salam literasi ya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pahlawanku Tercinta

Penghianatan